1. Awal Peringatan & Sejarah Peringatan Isra Mi’raj

Isra Mi’raj secara historis diperingati sejak masa kekhalifahan Islam awal, khususnya pada masa Dinasti Ayyubiyah (abad ke-12 M), sebagai bagian dari upaya menghidupkan syiar Islam dan menguatkan spiritualitas umat. Namun peringatan formal sebagai hari libur nasional di Indonesia baru dimulai setelah kemerdekaan, ditetapkan melalui Keputusan Pemerintah Republik Indonesia.
Awalnya, peringatan lebih bersifat keagamaan (ceramah, pengajian) dan tidak seragam di seluruh dunia.


2. Siapa yang Menetapkan Isra Mi’raj sebagai Peringatan?

  • Dalam konteks Indonesia: Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara yang menetapkan hari libur nasional, termasuk Isra Mi’raj, berdasarkan kalender Hijriyah.
  • Dalam sejarah Islam: Bukan Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan perayaan khusus, tetapi umat Islam secara turun-temurun memperingatinya sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa agung tersebut.

3. Negara Lain yang Memperingati & Status Libur Nasional

  • Malaysia, Brunei Darussalam: Libur nasional.
  • Arab Saudi, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, dll: Diperingati secara keagamaan (khotbah, kegiatan masjid) tapi bukan libur nasional.
  • Turki: Diperingati sebagai "Lailat al-Mi’raj" dengan ibadah malam, bukan libur nasional.
  • Mayoritas negara dengan penduduk muslim merayakannya secara keagamaan tanpa libur nasional.

4. Sumber Netral & Terpercaya

Untuk menghindari informasi yang dilebih-lebihkan atau kurang akurat: - Al-Qur’an (QS Al-Isra:1 dan QS An-Najm:1-18) sebagai sumber utama. - Hadis shahih dari Bukhari dan Muslim tentang Isra Mi’raj. - Buku akademis:
“Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” oleh Martin Lings (menggunakan riwayat awal Islam).
“The Life of Muhammad” oleh Ibn Ishaq (dengan catatan kritis). - Lembaga resmi:
Fatwa dan artikel dari Majelis Ulama Indonesia (MUI)Al-Azhar Mesir, atau Lajnah Daimah Saudi Arabia. - Situs netral:
Britannica.com (entri “Isra and Mi’raj”), atau IslamQA.info (dengan verifikasi hadis).


5. Intisari Peristiwa Isra Mi’raj dari Versi Utama

  • Isra: Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) dalam satu malam.
  • Mi’raj: Naik ke langit (sidratul muntaha) menghadap Allah, menerima perintah shalat 5 waktu.
  • Kesamaan inti di hampir semua riwayat:
    Nabi ditemani malaikat Jibril, bertemu para nabi di langit, melihat surga-neraka, dan akhirnya menerima kewajiban shalat.
  • Perbedaan kecil ada pada detail tambahan di beberapa riwayat lemah (misal: deskripsi kendaraan Buraq, jumlah pertemuan nabi di langit), tetapi inti peristiwa konsisten dalam hadis shahih.

6. Pandangan tentang Nabi Muhammad Melihat Malaikat

  • Malaikat sebagai makhluk gaib dapat menampakkan diri dalam bentuk tertentu sesuai kehendak Allah (seperti Jibril menampakkan wujud asli kepada Nabi, hanya terjadi 2 kali menurut hadis).
  • Dalam Isra Mi’raj, Nabi melihat Jibril dalam wujud aslinya di sidratul muntaha, dan juga malaikat lain di langit.
  • Pandangan ulama:
    • Apa yang dilihat Nabi adalah hakikat dengan mata kepala (bukan mimpi), karena peristiwa itu terjadi dalam keadaan sadar.
    • Tidak semua manusia bisa melihat malaikat, tetapi Nabi diberikan kemampuan itu oleh Allah dalam peristiwa ini.
  • Hindari penggambaran rupa malaikat secara detail karena tidak ada dalil sahih yang mendeskripsikan rupa mereka secara rinci selain yang disebut dalam hadis shahih (misal: sayap, ukuran besar).

7. Keterkaitan dengan Peristiwa  Thaif

  • Beberapa sejarawan Muslim (seperti Ibn Sa’d) menyebut bahwa Isra Mi’raj terjadi setelah tahun kesedihan (wafatnya Khadijah dan Abu Thalib) dan setelah Nabi mengalami tekanan dakwah di Thaif  ini (tahun ke-10 kenabian).
  • Hubungannya:
    Setelah penolakan dan penyiksaan di , Thaif Nabi dalam keadaan sedih, lalu Allah menghiburnya dengan peristiwa Isra Mi’raj sebagai peneguhan spiritual dan pengangkatan derajat beliau.
  • Namun, tidak ada konsensus mutlak tentang urutan waktu pastinya, karena sebagian riwayat lain menempatkannya lebih awal.

8. Versi DeepSeek tentang Isra Mi’raj

Sebagai AI, saya tidak memiliki “versi” pribadi, tetapi saya dapat menyajikan sintesis dari sumber-sumber paling diakui:

  • Isra Mi’raj adalah peristiwa nyata (bukan mimpi atau spiritual journey saja) menurut keyakinan Islam, tetapi mengandung dimensi transenden yang tidak dapat diukur secara fisik.
  • Esensi utamanya adalah peneguhan kenabian Muhammad SAW dan pemberian kewajiban shalat 5 waktu sebagai hubungan langsung manusia dengan Allah.
  • Pesan universalnya:
    • Keteguhan setelah cobaan (seperti pasca-). Thaif
    • Pentingnya spiritualitas dan komunikasi dengan Tuhan.
    • Persatuan umat Islam dalam keyakinan pada hal gaib yang diwahyukan.
  • Dianjurkan untuk fokus pada esensi, bukan pada detail simbolik yang tidak berdasar, serta mengambil hikmahnya: disiplin shalat, ketabahan, dan keyakinan pada kekuasaan Allah.

semoga Anda semua sehat dan baik baik saja dalam keadaan mensyukuri yang dijalani dalam kehidupan masing-masing

assalamual'aikum warahmatullahi wabarakaatuh.

salam satu nafas 🙏🙏🙏